Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) bersama pemerintah dan sejumlah pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi dalam pengembangan ekosistem nilam Aceh secara berkelanjutan.
Upaya tersebut dibahas dalam kegiatan Koordinasi Penguatan Ekosistem Nilam Aceh Berkelanjutan yang berlangsung di BSI Landmark Aceh, Banda Aceh, Rabu (2/9/2026).
Forum tersebut membahas strategi pengembangan nilam secara terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir. Selain memperkuat posisi nilam sebagai komoditas unggulan Aceh, kegiatan ini turut mendorong pengembangan Banda Aceh sebagai kota parfum yang berbasis pada sumber daya lokal, riset, inovasi, dan industri kreatif.
Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Erdiriyo Erdi, mengatakan penguatan ekosistem nilam harus melibatkan berbagai pihak, mulai dari petani, pengolah, lembaga pembiayaan hingga sektor pemasaran.
“Kita ingin memperkuat nilam dari hulu sampai hilir dalam satu ekosistem. Banda Aceh dengan cita-cita menjadi kota parfum tentu membutuhkan dukungan dari semua pihak,” ujarnya.
Menurut Erdiriyo, penguatan akses pembiayaan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem nilam. Kementerian dan lembaga, regulator, perbankan, serta institusi terkait perlu bersinergi agar petani dan pelaku usaha mendapatkan pembiayaan yang mendukung pengembangan usaha secara berkelanjutan.
Ia turut mengapresiasi peran USK melalui Atsiri Research Center (ARC) yang selama ini aktif dalam riset, inovasi, dan pembinaan terkait nilam.
Sementara itu, Rektor USK Prof. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A., mengatakan pengembangan nilam merupakan bagian dari komitmen USK dalam mengintegrasikan pendidikan, penelitian, inovasi, dan hilirisasi untuk menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.
“USK telah melakukan riset dan pengembangan nilam selama kurang lebih 15 tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, kami terus memperkuat pendekatan tersebut, terutama setelah USK berstatus PTN-BH. Orientasinya bukan hanya menghasilkan publikasi atau inovasi, tetapi bagaimana hasil riset dapat dihilirkan menjadi produk bernilai tambah, memperkuat industri, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” kata Prof. Mirza.
Ia menjelaskan, nilam memiliki potensi yang lebih luas dibandingkan sekadar komoditas penghasil minyak atsiri. Bahan baku tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tinggi, seperti fine fragrance, parfum, kosmetik, dan produk turunannya.
“Nilai tambah terbesar bukan hanya berada pada bahan bakunya, tetapi pada kemampuan kita mengolah, memformulasikan, melakukan inovasi, membangun merek, dan menguasai pasar,” jelasnya.
Karena itu, USK tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi produksi minyak nilam, tetapi juga mendorong pengembangan produk hilir dan industri parfum yang berbasis pada kekayaan hayati Aceh.
Prof. Mirza mengatakan pengembangan industri parfum membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus, termasuk formulasi dan olfactory science. Melalui dukungan International Labour Organization (ILO), USK juga memperluas jejaring pembelajaran dengan mitra internasional.
Dua orang dari USK bahkan telah memperoleh kesempatan mengikuti pembelajaran mengenai pengembangan parfum di Paris.
“Untuk menghasilkan parfum premium, kita membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tidak sederhana. Merangkai berbagai notes menjadi sebuah komposisi parfum membutuhkan keahlian, pengalaman, kreativitas, dan pemahaman terhadap karakter bahan,” ungkapnya.
Di sisi lain, USK juga memberi perhatian terhadap penguatan sektor hulu. Menurut Prof. Mirza, perkembangan industri hilir harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani sebagai aktor utama dalam rantai pasok nilam.
“Tidak boleh terjadi ketimpangan antara sektor hulu dan hilir. Jika kita ingin membangun industri nilam yang berkelanjutan, petani harus memperoleh manfaat yang layak dan memiliki kepastian pasar,” katanya.
Ia menambahkan, USK berupaya meningkatkan kapasitas produksi, kualitas, serta penyerapan minyak nilam masyarakat sehingga terbentuk rantai nilai yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Prof. Mirza menegaskan, cita-cita menjadikan Banda Aceh sebagai kota parfum perlu dibangun melalui ekosistem inovasi yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, industri, perbankan, komunitas, petani, dan mitra internasional.
“Menjadikan Banda Aceh sebagai kota parfum bukan sekadar membangun sebuah industri, tetapi membangun sebuah ekosistem. Di dalamnya terdapat riset, pendidikan, inovasi, pembiayaan, produksi bahan baku, pengolahan, desain produk, branding, pemasaran, hingga pengembangan sumber daya manusia,” pungkasnya.
Project Manager Promise II Impact ILO Jakarta, Djauhari Sitorus, mengatakan keterlibatan ILO dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari program peningkatan inklusi keuangan dan penciptaan lingkungan yang lebih inklusif bagi UMKM, termasuk petani.
Menurutnya, akses pembiayaan masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petani dan pelaku UMKM sehingga diperlukan kolaborasi lintas sektor.
“Kami memiliki kemitraan dengan USK melalui ARC sudah sekitar empat tahun, khusus untuk nilam. Kami berharap ini dapat mendukung Banda Aceh sebagai kota parfum, sehingga akhirnya menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan,” kata Djauhari.
Dukungan juga disampaikan Pemerintah Aceh melalui Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Aceh, Zaini, S.Sos., M.M., yang membuka kegiatan tersebut.
Menurut Zaini, forum tersebut tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga momentum untuk memperkuat pengembangan nilam Aceh agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Pemerintah Aceh, lanjutnya, mengusulkan agar minyak nilam Aceh dapat masuk dalam sistem resi gudang. Skema tersebut diharapkan dapat membantu petani ketika harga komoditas mengalami penurunan.
“Apabila nilai jualnya turun, bisa disimpan dengan resi gudang dan bisa menjadi agunan di perbankan. Dengan adanya resi gudang, kualitas nilam kita juga dapat lebih terjaga,” ujarnya.
Zaini berharap dukungan pemerintah pusat dapat mempercepat penerapan sistem resi gudang untuk komoditas nilam sehingga memberikan manfaat lebih besar bagi petani sekaligus memperkuat keberlanjutan industri nilam Aceh.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, USK melalui Atsiri Research Center (ARC), serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Sebagian peserta mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom.
Setelah pemaparan narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama perwakilan perbankan dan pemangku kepentingan. Pembahasan mencakup akses pembiayaan, kebutuhan petani dan pelaku usaha, pengembangan produk turunan, peningkatan kualitas bahan baku, penguatan rantai pasok, serta peluang pengembangan pasar.












