Banda Aceh – Kota Banda Aceh genap berusia 821 tahun. Usia panjang ini menempatkan Banda Aceh sebagai salah satu kota tertua di Nusantara yang telah melalui berbagai fase sejarah, dari masa kerajaan hingga perkembangan sebagai ibu kota provinsi.
Wakil Ketua I DPRK Banda Aceh, Daniel Abdul Wahab, menilai usia kota yang semakin matang harus menjadi momentum untuk mengevaluasi arah pembangunan agar lebih berpihak kepada masyarakat.
“HUT Banda Aceh harus menjadi momen evaluasi, apa yang sudah baik kita lanjutkan, dan yang belum harus diperbaiki demi kepentingan rakyat,” ujarnya.
Ia mengakui adanya berbagai kemajuan pembangunan di Kota Banda Aceh, namun masih terdapat tantangan yang perlu diselesaikan, terutama terkait pemerataan hasil pembangunan hingga ke tingkat gampong.
Menurutnya, prioritas pembangunan ke depan harus berfokus pada pelayanan publik yang lebih cepat, penguatan ekonomi rakyat, serta peningkatan kualitas pendidikan yang merata.
“Pembangunan harus benar-benar dirasakan masyarakat secara adil, tidak hanya di pusat kota, tetapi juga sampai ke gampong,” kata Daniel.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap kinerja Pemerintah Kota Banda Aceh, namun menegaskan bahwa DPRK tetap akan menjalankan fungsi pengawasan agar kebijakan yang diambil tepat sasaran.
“Tantangan kita bukan hanya membangun, tetapi memastikan keadilan pembangunan bagi seluruh warga,” tegasnya.
Dalam sektor ekonomi, ia menekankan pentingnya penguatan UMKM, pasar rakyat, dan pelaku usaha kecil sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
Daniel juga mengingatkan pentingnya transparansi dalam pengelolaan anggaran daerah agar setiap program dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan Kota Banda Aceh.
“Kemajuan kota ini adalah tanggung jawab bersama. Mari kita jaga dan bangun Banda Aceh secara kolektif,” pungkasnya.












