Peristiwa

DPKP Banda Aceh Ungkap Penyebab Utama Kebakaran, Kesadaran Masyarakat Masih Rendah

8
×

DPKP Banda Aceh Ungkap Penyebab Utama Kebakaran, Kesadaran Masyarakat Masih Rendah

Sebarkan artikel ini
Petugas pemadam kebakaran saat menangani insiden kebakaran yang didominasi akibat korsleting listrik di Banda Aceh, Kamis (2/4/2026). Foto: Dok. Ist

Banda Aceh – Rendahnya kesadaran masyarakat dalam pencegahan kebakaran masih menjadi persoalan utama di Kota Banda Aceh. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) mencatat, mayoritas kasus kebakaran dipicu oleh faktor kelistrikan yang sebenarnya dapat diantisipasi sejak dini melalui edukasi dan peningkatan kesiapsiagaan.

Sejak Januari hingga Maret 2026, DPKP Banda Aceh mencatat sebanyak 16 kejadian kebakaran yang terjadi di berbagai lokasi, mulai dari rumah, sekolah atau dayah, hingga pertokoan.

Inspektur Muda Kebakaran DPKP Kota Banda Aceh, Yudi, SH, menyebutkan bahwa lebih dari 70 persen kasus kebakaran diduga disebabkan oleh korsleting listrik. Meski demikian, penetapan penyebab tetap harus melalui proses verifikasi oleh pihak berwenang.

“Faktor terbesar memang korslet listrik, tapi kami tidak bisa langsung menyimpulkan tanpa validasi. Penentuan resmi tetap dari tim inafis,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).

Menurutnya, dalam banyak kasus, titik awal api sulit dipastikan, terutama jika kebakaran terjadi saat penghuni tidak berada di lokasi. Api yang telah menjalar hingga ke bagian plafon biasanya akan cepat membesar dan menghanguskan seluruh ruangan, sehingga menyulitkan proses identifikasi sumber awal kebakaran.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab korsleting yang sering terjadi adalah tidak berfungsinya Miniature Circuit Breaker (MCB) secara optimal. Padahal, perangkat tersebut berfungsi sebagai pemutus arus listrik saat terjadi gangguan.

“Kalau korslet, seharusnya MCB itu putus. Tapi yang sering terjadi, tidak berfungsi dengan baik,” katanya.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat dalam upaya pencegahan kebakaran dinilai masih rendah. Banyak warga maupun pelaku usaha yang belum menganggap penting penggunaan alat proteksi kebakaran.

“Padahal kami terus melakukan edukasi. Setiap rumah dan tempat usaha sangat dianjurkan memiliki alat proteksi seperti APAR dan sistem alarm,” tegasnya.

Penggunaan alat deteksi dini seperti fire alarm system dinilai penting untuk memberikan peringatan cepat saat terjadi potensi kebakaran, sehingga penanganan awal dapat segera dilakukan sebelum api membesar.

Selain itu, Yudi juga menyoroti peran dunia usaha dalam mitigasi kebakaran. Ia menyarankan agar setiap pelaku usaha memiliki minimal dua hingga tiga unit alat pemadam api ringan (APAR) dengan kapasitas yang memadai.

“Kesadaran pemilik usaha masih kurang. Banyak yang menganggap remeh sampai kejadian benar-benar terjadi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa penanganan kebakaran tidak hanya menjadi tanggung jawab pemadam kebakaran, tetapi melibatkan tiga pilar utama, yakni masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.

“Kalau tiga unsur ini tidak bekerja sama, dampak kebakaran pasti lebih besar. Saat pemadam sudah turun, biasanya kerusakan sudah mencapai 80 persen,” katanya.

Yudi juga mengungkapkan, kebakaran di rumah umumnya terjadi di area dapur dan ruang tengah. Sementara itu, kasus kebakaran yang berasal dari kamar relatif lebih sedikit, namun tetap perlu diwaspadai.

Selain faktor instalasi listrik, kebiasaan mengisi daya perangkat elektronik tanpa pengawasan juga menjadi penyebab yang mulai meningkat. Banyak kasus terjadi akibat ponsel yang diisi daya terlalu lama.

“Banyak kasus karena ngecas HP terlalu lama, dari malam sampai pagi. Ini berisiko,” ujarnya.

Ia menjelaskan, baterai lithium pada ponsel memiliki batas ketahanan tertentu. Jika terus dialiri listrik setelah penuh, dapat memicu panas berlebih yang berpotensi menyebabkan kebakaran bahkan ledakan.

Fenomena serupa juga mulai ditemukan pada kendaraan listrik yang diisi daya terlalu lama, terutama dalam kondisi panas atau sistem pendingin yang tidak optimal.

Melalui berbagai temuan tersebut, Yudi mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam penggunaan listrik sehari-hari, termasuk membiasakan mencabut charger setelah perangkat terisi penuh.

“Edukasi ini penting. Jangan tunggu kejadian baru sadar. Kebakaran bisa dicegah dari hal-hal kecil,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *