Kesehatan

Program MBG Banda Aceh Fokus Serapan Gizi, Menu Khas Aceh Jadi Solusi

12
×

Program MBG Banda Aceh Fokus Serapan Gizi, Menu Khas Aceh Jadi Solusi

Sebarkan artikel ini
Siswa menikmati menu bergizi berbasis kuliner lokal dalam program MBG di Banda Aceh. Foto: Dok. Ist

Banda Aceh – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banda Aceh tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan, tetapi juga memastikan asupan gizi benar-benar dikonsumsi oleh anak-anak.

Pendekatan berbasis menu lokal kini menjadi strategi utama untuk meningkatkan serapan nutrisi sekaligus menjaga keseimbangan gizi harian para penerima manfaat.

Di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lamlagang, Banda Raya, penyusunan menu dilakukan dengan mempertimbangkan kandungan gizi serta kebiasaan konsumsi anak. Integrasi kuliner khas Aceh dinilai mampu meningkatkan nafsu makan, sehingga zat gizi dapat terserap secara optimal.

Ahli Gizi SPPG Lamlagang Banda Raya, Achsanu Nadia, menjelaskan bahwa tantangan utama program ini bukan hanya menyusun menu bergizi, tetapi memastikan makanan tersebut dikonsumsi hingga habis.

“Kalau makanan tidak dihabiskan, maka asupan gizi yang diharapkan tidak tercapai. Karena itu, menu harus disesuaikan dengan selera anak,” ujarnya.

Salah satu menu yang disajikan adalah Nasi Goreng Nektu dan Telur Darsun. Menu ini dinilai familiar bagi anak-anak sekaligus memiliki komposisi gizi yang seimbang.

Dalam satu porsi, menu tersebut mengandung energi 562,6 kilokalori, protein 19,4 gram, lemak 21,4 gram, serta karbohidrat 74,1 gram. Kandungan ini dinilai mampu memenuhi sebagian kebutuhan gizi harian anak dalam satu kali makan.

Secara umum, standar porsi dalam program MBG dirancang untuk memenuhi sekitar 30 hingga 40 persen kebutuhan energi harian. Komposisi makanan disusun lengkap, mulai dari sumber karbohidrat, protein hewani dan nabati, hingga sayuran dan buah sebagai sumber vitamin, mineral, dan serat.

Pendekatan ini bertujuan menjaga keseimbangan asupan gizi agar anak tidak mengalami kekurangan maupun kelebihan nutrisi. Dalam kondisi tertentu, tambahan susu juga diberikan untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan protein.

Selain itu, SPPG Lamlagang juga menyajikan variasi menu lain seperti udang masak Aceh dan ikan tumis Aceh yang diolah dengan rempah khas. Variasi menu ini penting untuk menjaga minat makan anak sekaligus memastikan asupan nutrisi tetap optimal.

Achsanu menegaskan, keberagaman menu menjadi kunci dalam menjaga konsistensi konsumsi gizi harian anak.

“Dengan menu yang familiar, anak-anak cenderung lebih lahap. Ini penting agar zat gizi yang diberikan benar-benar masuk ke tubuh,” katanya.

Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (BGN), Khairul Hidayati, menilai pendekatan menu lokal merupakan langkah tepat dalam meningkatkan efektivitas program MBG.

“Menu lokal lebih mudah diterima anak-anak. Dengan begitu, konsumsi meningkat dan tujuan pemenuhan gizi bisa tercapai,” ujarnya.

Ia menambahkan, program MBG tidak hanya bertujuan menyediakan makanan, tetapi juga memastikan kualitas gizi yang dikonsumsi sesuai kebutuhan anak.

Dengan strategi tersebut, program MBG di Banda Aceh diharapkan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi anak. Fokus pada keseimbangan nutrisi, variasi menu, dan tingkat konsumsi menjadi kunci keberhasilan program ini secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *