DaerahKesehatan

SPPG Lamlagang Hadirkan Nasi Goreng Nektu dalam Program MBG, Solusi Menu Sehat dan Minim Sisa

7
×

SPPG Lamlagang Hadirkan Nasi Goreng Nektu dalam Program MBG, Solusi Menu Sehat dan Minim Sisa

Sebarkan artikel ini
Anak di salah satu sekolah di Banda Aceh menikmati MBG. Foto: Dok. Ist

Banda Aceh – Penggunaan menu lokal menjadi strategi penting dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya dalam menjawab tantangan penyediaan variasi menu harian yang sehat, bergizi, dan sesuai dengan selera penerima manfaat.

Di Banda Aceh, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lamlagang, Banda Raya mulai mengintegrasikan kuliner khas Aceh ke dalam menu MBG. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan minat makan anak sekaligus menekan pemborosan makanan (food waste).

Salah satu inovasi yang diterapkan adalah menyajikan menu lokal seperti Nasi Goreng Nektu dan Telur Darsun. Menu tersebut dinilai dekat dengan kebiasaan konsumsi anak-anak di Aceh, sehingga lebih mudah diterima tanpa proses adaptasi yang panjang.

Ahli Gizi SPPG Lamlagang Banda Raya, Achsanu Nadia, menjelaskan bahwa pendekatan ini tidak hanya memperkaya variasi menu, tetapi juga efektif mengurangi sisa makanan. Anak-anak cenderung lebih lahap mengonsumsi makanan yang familiar dengan cita rasa daerah mereka.

“Penggunaan menu lokal menjadi salah satu cara untuk menghindari food waste dan meningkatkan nafsu makan penerima manfaat. Mayoritas anak sudah terbiasa dengan rasa makanan khas Aceh,” ujarnya.

Selain Nasi Goreng Nektu, SPPG Lamlagang juga menyajikan menu khas lainnya seperti Udang Masak Aceh dan Ikan Tumis Aceh. Hidangan tersebut menggunakan rempah khas seperti bunga lawang, kapulaga, dan kayu manis yang menjadi ciri masakan Aceh.

Dari sisi gizi, menu ini dinilai mampu memenuhi kebutuhan energi harian anak. Dalam satu porsi, Nasi Goreng Nektu dan Telur Darsun mengandung energi 562,6 kilokalori, protein 19,4 gram, lemak 21,4 gram, serta karbohidrat 74,1 gram, dengan komposisi yang seimbang.

Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (BGN), Khairul Hidayati, menyambut baik inovasi tersebut. Menurutnya, penggunaan menu lokal merupakan langkah efektif untuk meningkatkan konsumsi makanan bergizi sekaligus menekan sisa makanan.

“Menu lokal lebih mudah diterima karena sesuai dengan cita rasa lidah anak-anak, sehingga dapat menekan sisa makanan,” ujarnya.

Selain berdampak pada peningkatan konsumsi, penggunaan menu lokal juga mendorong pemanfaatan bahan baku daerah. Hal ini menjadikan program MBG tidak hanya berkontribusi pada kesehatan, tetapi juga pada perputaran ekonomi lokal.

Melalui inovasi ini, Program MBG diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gizi anak sekaligus menjadi sarana pelestarian kuliner daerah dan penguatan ekonomi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *